“Berakit- rakit ke hulu berenang ketepian,” suatu kesuksesan tak luput dari sebuah perjuangan panjang. Seperti halnya perjuangan KH. M. Sholeh pendiri Pondok Pesantren Attanwir. Beliau rela mengorbankan sebagian besar pikiran, tenaga dan harta bendanya tanpa mengharapkan imbalan dari siapapun. Terbukti dengan niat yang pasti Beliau mampu menciptakan pesona religi di kampung halaman hingga berjalannya waktu berdirilah Ponpes Attanwir yang kini menjadi wadah penimba ilmu. Meski bermula dari mushola kecil dengan murid seadanya Beliau memiliki semangat juang tinggi. Hal tersebut harusnya mampu sebagai motivator untuk para generasi muda khususnya Santri Attanwir.
Demi mengenang jasa Beliau seluruh elemen Attanwir khususnya dewan pengasuh Ponpes atau pun sekolah menghelat “Peringatan Haul ke - 17 KH. M. Sholeh”. Menjelang detik- detik acara dilangsungkan beberapa kegiatan pun dilakukan seperti Khotmul Qur’an bil ghoib dan bil nadhor, serta tahlil bersama yang mencakup MA, Mts, SMK, MI, STAI yang bertempatan di area lapangan. “Ya…setidaknya dengan Khotmul Qur’an ini saya bisa ngalap barokahnya KH. M. Sholeh,” ujar Indah disela- sela kegiatan berlangsung. Pemasangan tenda pun menjadi persiapan utama karena kedatangan para undangan yang hadir kurang lebih 1.000 pengunjung termasuk wali santri, masyarakat dan umum. Begitu pun makam KH. M. Sholeh tak pernah sepi dari ziarah para alumni dan masyarakat.
Pada 4 Desember 2009, tepat jam 01.00 acara dimulai. Suasana begitu meriah saat pengunjung memenuhi kawasan Ponpes. Berkali- kali panitia memberi himbauan kepada para pengunjung agar tidak memaksa kedepan panggung. Siang itu KH. A. Fuad Sahal selaku pengasuh menjelaskan bagaimana pengorbanan KH. M. Sholeh dalam memerangi kebodohan. Acara yang mendatangkan 3 narasumber diantaranya, KH. Imam Syaerozy dari Lamongan, KH. Qoyum Ma’sum Rembang, KH. Aly Thurmudzy Jombang. Secara keseluruhan Beliau menjelaskan bahwa “Orang akan berhasil jika tidak dibarengi ta’dim kepada para Ulama dan Orang Tua. Beliau juga menuturkan bahwa Attanwir berarti pemberi cahaya yang mana untuk menuju cahaya sang Khaliq,” tutur para narasumber tegas. Dipertengahan acara, Suyoto selaku Bupati Bojonegoro datang dalam acara tersebut dengan lambaian tangan Beliau menyapa pengunjung yang duduk berjejer mendengarkan ceramah dari narasumber. “Saya bersyukur menjadi alumni Attanwir, masih teringat jelas ketika saya mengaji kitab Nasoihud Diniyah disana dijelaskan bahwa Ilmu dan Dzikir adalah majelis surga,” tutur Beliau memberi sambutan.
Acara tersebut dimeriahkan juga oleh komponen organisasi yang berkecimpung di Attanwir termasuk menggelar pameran, tak hanya sebatas tontonan namun stand juga menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Mencakup banyak organisasi yakni OSA, ASSKAR, PASUSKA, LKSM, dan STAI bertempatan di ruang bawah STAI.
Hal tersebut tak luput dari tujuan diadakan acara ini, Drs. Sukardi Mpd selaku koordinator acara menuturkan “Ya...selaku ketua panitia saya berharap acara ini mampu mensyarkan Islam serta mengamalkan ajaran KH. M. Sholeh, bahwa agama Islam tidak seperti sampah yang berserakan,” jelasnya saat diwawancarai. Acara tersebut dirancang apik selama satu bulan. Tampak terlihat jelas ketika acara dimulai, dengan antusiasnya para pengunjung mampu menghidupkan suasana menjadi lebih nyata. ”Alhamdulilah acara ini tiap tahun ada, Ya...setidaknya mampu menjadi suri tauladan yang baik dari perjuangan KH. M. Sholeh,” tutur bapak Ari selaku wali santri saat menuju tempat acara.(web)